Antara Pulang dan Perjalanan

Karya: Agtya Jacklione Sabrina

 

Rumah dan remang-remang, serta denting ambisi dan sumpah serapah yang terdengar sampai jauh dari wilayah rumah yang hina dina itu

Apa yang akan didapatkan penghuninya dari gerlap gemintang keserakahan? Selain punggung-punggung remuk dan desahan yang membuncah kemana-mana, juga merah buta, anyir, dan seterusnya. Ia akan sekarat dalam perjalanannya sendiri. Itulah hukum alam yang dominan. Dosa-dosanya akan menyuapinya sampai kenyang. Tapi ia akan dungu dengan semuanya. Hanya bisa menapak pada pikirannya yang keruh dan diam di tempat. Semu di atas keangkuhan yang penuh dogma-dogma

Kehidupan-kehidupan yang kaku, rahim-rahim tak berdosa diasuh oleh makhluk hidup pendendam, besar dengan umpatan dan kebodohan. Beku pipinya dan tamparan kesiangan, merah padam yang berenang dalam mata bengis pada musim-musim yang suram

Keruntuhan meraup seluruh kesehatannya kelak. Memang sudah sepantasnya ia raib dalam masa-masa pasik. Itulah dasar dari pada dasar lahan kebiasaan yang tak berperikemanusiaan

Di rumah megah nan gelap itu. Di pangkuan kekasih yang jauh dan dekat dalam otak ingusan. Akan datang jiwa-jiwa yang direbut haknya, dibodohi garis keturunannya, mereka berkunjung pada setiap malam di jendela rumahnya. Portal antara ada dan ketiadaan, kebencian dan kecintaan. Apapun bebas mengegah

Mereka merengek masuk, bergelantungan pada jendela-jendelanya. Lalu, mata sang tuan yang keparat terbuka, kematian yang binal datang, nadi-nadinya merintih pada darah-darah korban kecintaannya dengan jantung-jantung yang berkelakar

Meringkas segala kesalahan menjadi miliaran volt yang sekalinya berdentum akan hancur dirinya. Mayatnya membusuk dengan ulat-ulat dan sebagainya. Tulang-tulangnya melayangkan bau-bau kerapuhan yang mendalam. Makamnya mengais tanah sendirian dalam kebengisan yang beranak-pinak. Merayap pada hati pongah dan keji miliknya sendiri. Beringsut malu di matanya, mati dan hidup jadi satu

Akan tiba akhir itu, doa-doa ini hadir dari masa depan. Puisi ini kabar baik untuk dirinya karena telah ada yang membacakan kematiannya yang sudah pasti tak sejalan dengan rencananya. Ia sudah gagal total, upaya balas dendam yang salah dari awal. Kebahagiaan akan membawa bumerang pada titik kelegaan semasa hidupnya

Selamat kepada sang tuan atas hari tua bersama kesempatanmu yang kelam. Tuan dari senjata makan tuan. Bagaimana bila hidup tanpa kematian. Namun, mati dalam kehidupan?


Trenggalek, 2021


 

 

Komentar

Postingan Populer