Jejak yang Jauh

Karya: Agtya Jacklione Sabrina

 

1/

Tidak ada obrolan malam itu. Usia melaju bersama beku

dan kau tidak membiarkanku dengan perasaan lain

Hanya keberadaanmu yang menari bersama waktu di kepala-kepala malam

dan merajaiku sebagai peluru dalam keheningan yang menggerahkan

Angin semakin kelam dan lenganku membiru memeluk kehampaan sendiri

 

2/

Kemarin sore aku melihat perayaan di taman kota. Ramai dan dingin

Namun, yang terasa seperti aku berbincang dengan masa lalu

yang hidup dengan keegoisan kita

dan bahagia-bahagia yang patah di temaram wajahmu

 

3/

Seorang pernah berkata jika ingin menjadi cahaya kau harus berani terbakar

Lalu, seorang itu bertanya tentang kesedihan lama. Apa kontribusi kedua itu

pada ambisi untuk terus mencinta? Pernyataan dan pertanyaan yang melahap pikiranku

pada pukul 2 pagi ketika aku terlelap dan terjaga di atas coretan tinta

dan kehangatan

antara ketiadaan dan kemungkinan

 

4/

Kau tidak benar-benar datang dan aku tidak benar-benar pulang

Pertemuan kita usai di batas kebodohan dan pendapat manusia-manusia yang karam di peron stasiun kota

 

5/

Lampu jalan menyalakan penari latar dan membungkam negara-negara lapar

yang tertimpa sukacita singkat dan selamanya akan mengandung prahara

yang tak pernah kelar. Kau tahu: mimpi akan hadir setelah kenangan menyalamiku

di tubuh jendela kamar

 

6/

Aku merasakanmu di mana-mana. Melambai dalam pantulan air hujan yang lenggang

di trotoar ibu kota. Merayap bersama wangi lilin di meja belajar

dan kesibukan orang lalu lalang di jam-jam kerja

Aku merasakanmu di mana-mana. Di layar komputer kantor

sampai kau yang berdiri di halte bus dan menyusup sebagai kerinduan

yang menggeliat dalam diriku. Aku merasakanmu di mana-mana

Di riuh embun pagi hari yang senyap dan rintihan mata pengemis yang nanap

Aku melihatmu menari bersama cat dan kuas yang berserakan di kamarku

Aku menemukanmu di teras rumahku, kau sedang mendengarkan lagu yang selalu kuputar

dan tertidur dengan buku-buku yang belum selesai kubaca

Aku mendengar suaramu lewat aroma masakan di restoran pinggir jalan 

yang kerap kita kunjungi

Aku merasakanmu di setiap gertak nadi yang membuncah dan kembali meleleh

bagai salju pada kaca mobil di parkiran pameran lukisan hari raya

 

7/

Kucing-kucing berlarian di rambut hutan yang lelah menjuntai,

menjelma luka dan cakaran manja di sore hari

Seorang berjalan di ambang udara yang mengering di antara pulau dan benua yang linglung

Ikan-ikan sedang menyantap sarapan bersama kecintaannya di meja makan. Dan aku meragu

ketika layar ponselku menyala menampilkan kalimatmu datang dengan bahasa yang berjarak

 

8/

Hidup ialah loyalitas yang harus ikhlas bertokoh sebagai siapa saja

Bermain dengan siapa saja. Sepertinya manusia memang kuat hidup dalam jantung kesepian

dalam kesadaran yang nyata

dan

ketidaksadaran yang menganga

Menelan ketidakpastian dan kehancuran paling berat dari pada kebahagiaan yang ditanggung

seluruh semesta. Sepertiku, menyelam dalam kolam kusam tercuram yang menggelimantang

di matamu

 

Trenggalek, 2021

 

 

Komentar

Postingan Populer