Mei
Karya: Agtya Jacklione Sabrina
Waktu berlalu seperti biasa, Mei
dan
kawanmu yang mati malam itu masuk dalam berita kriminal
yang
tulisannya hanya berisi sensasi, banyak fakta palsu, dan opini semata
Utangmu
sudah lunas meski nyawamu harus tuntas
Semangat
dan tujuan baikmu telah tercapai. Sudah cukup kau berjuang sendiri dalam lingkungan
yang tidak manusiawi
Kau
selamat, kau mati tidak dengan status itu, kau bebas, Mei
Kau
bukan mayat berjalan lagi
Keparat
Mei, keparat bagi mereka yang meneteskan air liur
di
sepanjang antrean kamar
“Kehidupan yang terlampau terang tak jarang membuat kilau
mutiara menjadi tak ada harganya
Hidup dalam gelonggong anyir darah dan nomor jual bukan
berarti lebih hina daripada mereka yang bermandikan susu berlian
Hidup dijebak dan terjebak
Rasa sakit sudah tak kurasa sebab jiwa dan raga yang jauh lebih
besar
Bahagia masih bisa tidur nyenyak
Bekerja dengan seluruh jiwa raga hingga membuatku lebih peka
dengan rasa syukur daripada mereka para otak kecil murahan yang sembunyi
di balik pakaian yang mentereng
Setitik cahaya bagai semesta harapan yang lebih mudah
terlihat sebab sudah terbiasa dengan gelap
Bahagia telah diberi kesempatan oleh-Nya untuk menjadi
seorang ibu
Semoga aku mampu memberi anakku kehidupan yang paling benar
agar
kelak ia menjadi sebaik-baiknya manusia
Aku berhak berkata bahwa aku sudah melakukan semuanya dengan
baik
Aku bahagia bisa memberinya asi meski tak sampai sebulan
Aku telah melepasnya agar ia bisa hidup normal seperti
anak-anak lain
Terima kasih Tuhan, Engkau bagi siapa saja
Bantulah aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik
Aku percaya Engkau mendengar doa siapa saja. Terima kasih
Tuhan, aku senang masih diberi kesempatan untuk bersujud kepada-Mu
Semuanya pasti mati, semua yang kita miliki akan hilang
termasuk diriku yang suatu nanti akan terlepas dari badai rajaman pisau manusia-manusia
gila
Semoga semangat dan kemanusiaanmu menggelimantang tanpa
ragu, Nak
Menjadi nyata bersama keyakinan dan kegigihan untuk suatu tujuan
yang baik dan benar”
Mei,
anakmu kini telah sukses dan mafhum siapa dirinya
Anakmu
sudah tahu semuanya, Mei
dari
dirinya sendiri. Dia muda dan tegar sepertimu. Kau hidup dalam darah-darahnya
Sebenarnya,
aku tidak ingin terlalu sering bertemu dengan anakmu
sebab
aku melihatmu dalam dirinya
Perjuangamu
sewaktu hidup tidak sia-sia, Mei
Kau
mati dalam hidup itu memang benar
Namun,
matimu menjadi lentera waktu yang tak pernah biru
untuk
anakmu
dan
untukku
Suratmu
sampai di tanganku dengan aman
dan
tak pernah kupadamkan amanahmu untuk menyampaikan kepadanya bahwa kau
mencintainya
Mei,
senantiasa kulangitkan doa kepadamu juga anakmu dan keturunannya agar mereka tidak
mencari keadilan dengan cara yang tidak adil
Tuhan
ada bersama orang-orang yang tidak pernah berhenti mencintai-Nya
Termasuk
mereka yang bekerja di lautan malam
Trenggalek, 2021
Komentar
Posting Komentar