Bumi Matematika
Karya: Agtya Jacklione Sabrina
Matematika bernafas dalam jantung pengembara: yang warisannya akan ditumpahkan sebagai minuman para dewa. Tulang-tulang rumus akan menjelma mata air penghidupan di hari tua. Samudera ilmu matematika merangkul bumi dengan pengetahuan yang kompeten. Membekas dalam jejak teori penuh nutrisi.
Matematika membawa peradaban jadi kalangan bangsawan: menyemai buih-buih lautan dengan simbol-simbol bernyawa yang juga dipakai oleh bidang keilmuan lain. Ia berjasa dan penuh budi daya.
Matematika melintasi musim-musim di mata para pelancong ulung: dari yang terdahulu tanpa tidur, terasing bagi pemalas tempat gulma kebodohan tumbuh subur.
Matematika menulis zaman dengan pencarian, penyelesaian, dan pertolongan yang budiman.
Matematika ialah ia. Ia yang pada guratan ototnya mengenal kepala mana saja yang sudah terbuai akan melodinya yang berbobot sekalipun datang dari bahasa yang jauh. Tenggelam bersama emosi teorema yang canggih. Kelam dalam operasi penuh warna dan kesukaran yang terbantu. Ia berjasa bagai nenek moyang dengan uban-uban bijak yang tak lekang sejarah.
Matematika hadir dan menua dengan kontribusi pada penemuan-penemuan yang melegenda. Mengerkah pemburu alam rimba raya. Melukai galian yang curang perihal upaya untuk merendahkan jalan bernalarnya yang unik.
Matematika terbentang pada jiwa-jiwa pelabuhan yang karam. Namun, ia menggeliat penuh gairah membawa yang terbenam pada terbit dengan ukuran penuh tanggung jawab.
Matematika menyala bak muara air susu ibu: yang padanya konsep-konsep kesetiaan bermukim seakan langkah ombak berdesir dengan penuh keanggunan.
Matematika ialah pikiran-pikiran terstruktur: mencacah barisan, deret dosa-dosa yang lahir, dan ilmu dagang yang menggelisahkan dengan penuh ikal ketepatan yang harus benar. Ia membunuh cara-cara yang akan memberantas kepercayaan manusia.
Matematika telah menciptakan bunga-bunga yang harum dan
benih-benih roh yang terdidik.
Trenggalek, 2021
Komentar
Posting Komentar