Puisi dalam Buletin 2021 LIMAS Edisi 2 HMP Pendidikan Matematika UMS
Karya: Agtya Jacklione Sabrina
1/
Inilah barisan kiri, di lengan-lengan bumi yang mengguncangkan jiwa
segala peristiwa
Meraup banyak nyawa melalui tangan-tangan di balik gagahnya pemilik jas
hitam dan putih
“Selamat datang, di perhentian riwayat kehidupan uji coba,” sapa mereka hangat menyambut setiap yang datang dengan formulir kematian.
“Sebenarnya, tidak perlu repot-repot seperti ini, apalagi simulasi semacam itu. Suatu yang mati ya sudah mati saja. Namun, bos kami mengutus untuk mencatat data air dan daging yang sudah lenyap”
:
Digegaskanlah, prosesi kremasi jasad-jasad yang lebih suci daripada warga di rahim belantara bumi
Telah dipersiapkan vitalitas baru, wajah dan kerangka tubuh baru bagi para penindak agenda mulia...
-bagi suatu yang waras, itu semua keparat-
...sebagai hadiah kehormatan dalam penyempurnaan program yang amoral
Para pelaksana ialah penyembuh yang ulung. Namun, mereka hanyalah parasit
Sekadar sampah busuk yang tidak tahu lagi harus mencari pekerjaan seperti apa
Lantas hanya bisa mendekam dalam kubangan lumpur penuh nestapa.
2/
Bagaimana jika wabah penyakit yang dahsyat terjadi di tahun-tahun yang
sangat lalu?
Seperti wabah saat ini, apakah orang-orang akan hilang dalam bahasa mereka sendiri?
Tenggelam dalam dada kebun masing-masing yang tanahnya bau kotoran anjing
Sepi bak roh telantar
Usang dalam nyiur rerumputan di tanah
yang bergelimpangan mayat-mayat
3/
Si bapak mati dalam tatak siratan kapita di balik kerah-kerah baju para penguasa.
“Semua akan kembali normal,
suasana sebelum pandemi pasti datang. Sekiranya belum, mungkin bakal terjadi
lagi suatu yang bersukma kembali pulang”
Suara dalam telanjang malam yang lapang. Raib dalam puisi yang belum sempat dituliskan
Menjadi jawaban dari pertanyaan yang bahkan tak ada, apalagi tersampaikan. Ia orang baru dalam daftar perayaan, korban dari kehidupan bangsanya sendiri. Keluarganya mencari-cari keterangan ke sana kemari, dilempar-lempar, diombang-ambing.
Mereka sebenarnya tahu memendar-mendar seperti itu hanya akan
berujung tiada hasil. Memang benar yang tersisa hanya wangi gunung dan bayangan
yang menghapus sebagian dirinya
4/
Pandemi saat ini ialah bagian dari semua lapisan. Hidup dalam
kekukuhan tungkai-tungkai para tukang becak. Bernyawa dalam kemenangan bagi
penyendiri, tantangan bagi semua raga-raga yang sehat
Menetes bersama air mata orang tua yang melepas kawin anaknya. Menyalak dalam semangat belajar. Berharmoni dengan depresi
serta menyertai injeksi bius dan obat penenang berenang dalam sel-sel darah
Sampai pada tetirah yang melenggang
dalam beberapa detik termin terhadap suatu yang hidup
5/
Pasti semesta sudah sesak dengan doa-doa kesembuhan juga kematian manusia-manusia bajingan. Kejadian terlampau gila, empati sudah amburadul.
Semakin ke sini bunyi kian asing
dan riuh hawa dingin menjadi sangat kering. Mendera deru pohon di masa-masa tubuh lelah
namun dijejali tugas-tugas yang karam
sampai sejauh makam-makam.
6/
Bila wabah ini berakhir, akankah terlontar kata-kata perbandingan dan sikap-sikap sok tahu sampai acuh? Sekalipun itu takdir terbaik yang sudah dikehendaki-Nya terjadi
tanpa perlu persetujuan makhluk-Nya.
Trenggalek, 2021
Komentar
Posting Komentar