Ah Putra-Putri Ibu

Karya: Agtya Jacklione Sabrina


Berzikir, mencengkeram perut yang sakitnya teramat

pada Tuhan pemilik segala

satu-satunya suar dalam mendung saban waktu di mandat ibu

berusaha menyongsong bahu tempat adik-adiknya berkeluh

menyusu tunggu amanat ibunya terakhir temu.

 

Keringat anyir direngkuh bibir, dijilat mantap

sisa nasi hari lalu dibagi rata, dicuil sesuap

nikmat begitu saja

mengeja lapar di fana waktu yang gelap

harus tersenyum meskipun hanya sekelebat

harus kuat untuk adik-adiknya yang bernafas berat.

 

Hidup mereka berbeda

kakak tertua hanya bisa melihat bau dan mendengar raba

gila kerja anehnya

berjalan terseok, pelan namun penuh gelora

tercium dari hidung yang memiliki hati, bahwa ada dua jantung lagi yang harus terus berdetak.

 

Puan bungsunya merengek di rumah, adiknya itu sempurna panca budi indria

hanya bisa menangis tatkala merindu asi, pun pemiliknya

sedang putra tengah dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya

empat tahun yang bisu menghidupi tiga bulan yang ranum, lumpuh

si sulung tahu ini gila

ia hanya berpikir harus terus hidup sampai ibunya datang

pergi pagi pulang petang, bekerja dengan kondisinya yang serba kurang

tak sudi ia makan dan membiarkan adik-adik menelan gaji ibunya yang berliur api neraka.

 


Trenggalek, 2020

Komentar

Postingan Populer