Tanah Dec: Madu, Pare, dan Dandelion

Karya: Agtya Jacklione Sabrina

 

Dewi malam mengizinkan sayap itu tanggal, dililit pembuluh asa

pada raga yang dipanggil awah oleh bungsu ranum bunga bertopi putih.

Dawai tangis menggiling atma randa tapak, disaksikan indurasmi sambil menyeka, 

            satu-satunya suar dalam orion setiap bijinya. 

Awahnya tak akan lagi menemani si bungsu itu megar.

Meski sayap bunganya hilang, bunganya tidak akan rusak. Semasing bijinya akan tumbuh

di mana saja ia jatuh. Ke mana pun angin membawanya terbang, ia harus mampu

dewasa sendiri. Itu hakikat hidupnya.

 

“Sing anteng nduk, ibumu iku luwih iso nuntun sampeyan dadi uwong sing becik”

Nafasnya tersenggal, sumarah, bibirnya komat-kamit merapalkan doa. Sebentang memori lama

hadir menyuguhkan ribuan madu dan pare, cemas.

 

Malam itu, bumi Ngemplak disambangi tamu, tanpa aba-aba, mencabik kuncup bungsumu,

kemungkus, alat haranya ripuk.

Lara melesat hebat, jauh, sangat jauh

terambau dalam, sangat dalam

ia bersujud, aksama tak lekas sampai, menakhlikkan lorong semu yang pada pahangnya

ada tokoh baru bernama rindu yang mengangan saban akara, nisbi.

 

Kautetap menjadi bapak dandelion yang tumbuh sepanjang waktu di dadanya, meski tanah Dec

merubahnya menjadi seperti hidup di negara empat musim.

Bunga ranummu itu rupanya belum megar, masih saja kekanakan.

 

Lagi, madu dan pare mengirimkan pesan berbaris rintikan hujan. Nanar

hawa manis nan pahit menguar, menelisik saudade, rindu dan sendu

ia tidak lagi mengenal bahasa itu, tertatih mengeja setiap kata yang mematikan.

“Sudahi saja!” teriaknya.

Geram dengan metrum rindu yang mengoyak ladang hati, hingga setiap malam bungsumu itu

tidur diselimuti air matanya sendiri.

 

Ia sudah tahu, si bungsu tahu kalau madu dan pare tidak bisa membantu apa-apa, 

            selain mengumpulkan manis dari tubuhnya sendiri, mengalirkan harsa

dan pahit yang menyulam amunisi, menelan egoisme.

Semarak tiap benihnya harus mampu menginfasi jiwa dan raga putri yang kehilangan rajanya.

 

Sekali lagi,

dalam anatomi yang lain,

madu dan pare melengkapi arsitektur rasa pada proses pematangan biji daripada

persemaian

bungsumu yang lama dikuliti rindu, biru,

tumbuh menjadi gigi singa yang tangguh.

Benihnya tidak harus rontok satu persatu, renjana mampu mengisi rancak enzim,

menabalkan putri atau kesatria dandelion berikutnya.

 

Trenggalek, 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer